Narasi

 Ana merupakan remaja berusia 18 tahun. Ia memiliki pribadi yang ramah dan juga periang. Sehingga tak sulit untuknya bergaul dan berteman dengan siapapun. Bahkan kehadirannya selalu menjadi hal yang dinantikan saat berkumpul. Selain itu, ia juga memiliki selera humor yang baik. 

Namun di balik sikap periangnya, Ana juga kerap merasa sendiri. Bahkan lelucon yang sering ia lontarkan itu tak mampu menggantikan sepi di hidupnya. Menjadi anak tunggal memang bukan hal yang diinginkan. Ia sering ditinggal orangtuanya yang sibuk bekerja. Hingga sudah lama ia berteman dengan sepi. 

Suatu hari Ia beranikan diri untuk membicarakan hal ini kepada kedua orangtuanya. Ingin ia katakan bahwa selama ini Ia membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Ia membutuhkan tempat untuk pulang, namun alasan yang didapat dari kedua orangtuanya adalah bahwa mereka melakukan ini untuk Ana. Seolah segala kebutuhan dan kebahagiaan Ana dapat Ia gantikan dengan beberapa lembar uang. 

Sejak saat itu ia mengerti , bahwa kebahagiaan yang selama ini ia impikan datang dari orangtuanya adalah suatu kemustahilan untuknya. Maka pada hari itu Ana berjanji akan membahagiakan dirinya dengan caranya sendiri. Dan makna pulang murutnya adalah saat Ana merasa bahagia dengan dirinya, tanpa mengharap kebahagiaan dari oranglain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidi Baiq dan Kegemilangannya dalam Film Dilan

Author and Self publishing in Indonesia, Panji Ramdana